Rabu, 09 April 2014

Susahnya Menjadi Orang Bodoh

Sebuah ide membakar pikiran saya berhari-hari.
Apa gerangan yang membuat seseorang harus menjadi pintar? Apa yang sesungguhnya terjadi ketika seseorang memutuskan ingin jadi bodoh? Apa yang dicari seorang “pintar” di dunia ini? Dinamika apa yang sebenarnya terjadi antara bodoh, orang bodoh, dan semesta raya? Memikirkan hal-hal tersebut membuat saya menapak tilas tentang kehidupan saya.

Suatu hari,
            Seorang sahabat saya di Perguruan Tinggi berkata “Tau gak yang menarik dari elu apa? Elu berani banget nyoba-nyoba, berkali-kali gagal tapi nyoba lagi. Entah elu bodoh atau pantang menyerah”
            Saya yang ditanya tentu saja hanya bisa tersenyum-senyum sendiri dan baru sekarang saya tahu apa maksud perkataan tersebut. Menjadi bodoh itu susah, makanya saya pantang menyerah hingga keliatan bodoh karena menjadi bodoh itu butuh banyak pengorbanan. Maka, karena menjadi bodoh dan pintar sama-sama membutuhkan pengorbanan, saya lebih memilih berjuang untuk menjadi pintar.
Jangan pikir bahwa kalimat tersebut datang dalam sekelabat waktu. Saya butuh bertahun-tahun dari hidup singkat yang Tuhan berikan untuk mencapai kesimpulan tersebut. Karena saya ingin orang lain lebih cepat sadar akan hal ini, maka saya menulis kisah ini. Kisah ini adalah pengalaman saya, mungkin orang lain akan belajar sesuatu dari hal ini sehingga di kemudian hari, ia pun dapat membagi pengalamannya juga kepada saya dan yang lainnya. Ini timbal balik yang begitu indah bukan?
***
            Lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang cukup bergengsi dan masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA) yang diremehkan telah membuat saya banyak diremehkan teman-teman saya.
“Kejauhan sel kalau SMA di sana dan mahal ongkosnya entar” begitulah alasan orang tua saya yang sudah menjelaskan bahwa tidak ada pilihan lain selain menerima keadaan.
            Malu jelas saya alami karena di saat teman-teman saya bersekolah di Sekolah A yang banyak artisnya, di Sekolah B yang banyak orang-orang pintarnya, saya hanya bisa bersekolah di sekolah yang bahkan tidak mempunyai ruang aula untuk kegiatan-kegiatan sekolah. Dan hal terburuk yang saya citrakan pada diri saya adalah saya bodoh dan mulai menjadi orang buangan.
            Saya mulai merasakan kebingungan dan ketakutan bahkan muak setengah mati dengan hidup saya. Saya mulai untuk malas belajar, malas bersekolah, bahkan malas berpikir. Jujur sebenarnya saya tidak sebodoh itu sebelumnya, saya adalah salah satu siswa berprestasi di SMP saya dulu. Tapi semua pemikiran ini membuat saya bodoh dan saya benar-benar menjadi bodoh. Nilai-nilai rapot saya menurun drastis, jika dahulu nilai matematika saya selalu di atas 9, di SMA nilai matematika saya bahkan tak pernah mencapai nilai 7, selalu di bawahnya. Kemampuan berbahasa saya yang dahulu fasih pun menjadi kaku, lama tidak digunakan.
            Akhirnya saya benar-benar percaya bahwa saya bodoh. Saya tidak secure  lagi dengan kecerdasan saya. Ini bukan fase terparah dalam hidup saya. Karena setelah pembagian rapot tersebut, mulailah banyak orang yang menyebut saya bodoh, dari teman sampai bahkan guru. Yang tidak pernah dan sangat menjaga mulutnya dari mengatakan saya bodoh, adalah orang tua saya.
            Ayah saya yang jago hukum dan bahasa hanya bisa terdiam ketika melihat anaknya mendapat angka 5 di rapot untuk Bahasa Jepang. Ibu bahkan kalau kekesalannya memuncak atas kelakuan saya, paling ekstrim mengucap  bodoh dengan kata tidak pintar.
“Sell, ko gitu sih? Jangan jadi orang tidak pintar dong nak”
            Tapi sialnya, dulu dalam sehari, saya lebih sering bertemu guru dan teman  daripada orang tua dan ucapan mereka bahwa saya bodoh, meresap ke benak dan bawah sadar. Dan karena saya minder dengan kecerdasan saya, saya mudah tersinggung ketika disebut salah, ketika gagal, ketika kalah. Tersinggung karena seakan semua itu pertanda bahwa saya (benar) bodoh.
Akhirnya, saya menemukan titik balik dalam kehidupan saya. Melalui OSIS, hidup saya mulai bertransformasi, tentu ke arah yang lebih baik. Di sana, di keluarga baru saya, saya melihat banyak orang hebat. Okky yang begitu diremehkan karena kekanakan pada saat berkumpul bersama teman-temannya, menjadi dewasa luar biasa ketika dipercaya menjadi Wakil Ketua OSIS. Ainun yang menangis berkali-kali karena proposal-proposalnya dicoret-coret Pak Pur karena salah, toh tetap terus membuat ulang proposal-proposalnya walaupun semalaman ia tidak tidur untuk mengerjakan proposal itu. Ataupun Jessica yang menjadi apa adanya dalam keadaan ada apanya sekalipun. Mereka semua menerima hidup mereka dan bersyukur atas apa yang mereka dapatkan.
Saya belajar dari mereka dan inilah yang tidak pernah diajarkan oleh sekolah. Saya terlalu lama hidup di dalam kebencian atas hal-hal yang tidak saya inginkan: saya membenci bersekolah di sekolah yang orang tua saya inginkan, membenci teman-teman saya yang hidup lebih baik, bahkan membenci takdir-takdir Tuhan untuk saya. Membenci membuat saya marah dan frustasi. Membenci juga membuat saya mengutuk, mencaci dan tidak ingin tahu apa yang terjadi. Pada akhirnya ketidaktahuan membuat saya merasa bodoh, dan percayalah, bahkan orang bodoh pun tidak suka merasa bodoh.
Saya mengalami benar kalimat terakhir dari paragraf di atas. Menjadi bodoh berarti harus menjadi orang terakhir yang dipercaya guru untuk mengikuti seleksi lomba dan kadang tidak diikutkan karena anggarannya lebih digunakan untuk orang-orang yang lebih pintar daripada saya. Menjadi bodoh menyempitkan pergaulan saya. Dahulu, ada peribahasa yang mengatakan bahwa bergaullah dengan tukang parfum maka anda akan berbau parfum dan akibatnya teman-teman yang merasa lebih pintar dari saya lebih memilih bergaul dengan orang-orang pintar lainnya karena ingin tertular pintar daripada bergaul dengan saya, takut akan membawa pengaruh negatif bagi mereka katanya. Andai mereka tahu, bahwa bodoh bukanlah penyakit dan tidak akan menulari mereka.
Akhirnya karena bosan menjadi orang bodoh dan mempunyai teman-teman OSIS yang pantang menyerah, saya mulai berubah. Pencapaian. Itulah kuncinya. Saya mulai memetakan tujuan hidup dan mencapainya satu per satu.
Saya berjuang untuk memperbaiki masa SMA saya. Saya belajar giat hingga malam buta demi perbaikan nilai-nilai saya, saya ikuti semua kompetisi yang bisa saya ikuti, saya memberanikan diri untuk menjadi calon Ketua OSIS. Tidak peduli berapa banyak orang yang menghina, merendahkan, dan tidak melihat perjuangan saya. Saya tidak akan menyerah.
I know who i am. I am not what they say.” Kata-kata itulah yang selalu saya katakan ketika keadaan tidak menyenangkan bagi saya.
Sedikit demi sedikit, pencapaian yang saya lakukan menambah kepercayaan diri saya. Kegagalan adalah teman setia saya dalam proses pencapaian tersebut. Yah, saya memang seringkali gagal tapi saya terlalu ingin sukses, untuk membiarkan ketakutan membuat saya gagal sehingga saya terus berusaha. Dulu, saya begitu takut gagal karena takut dibilang bodoh (lagi). ‘Daripada keliatan jelek mendingan gak usah dilakuin. Daripada hasilnya enggak maksimal mendingan kerjain yang lain. Daripada sakit mendingan hindarin. Daripada ... mendingan ...’  selalu ada kata-kata yang dapat saya padankan untuk mengisi kalimat tersebut yang akhirnya selalu membuat saya batal untuk maju pada zaman saya SMA. Saya menyerah sebelum memulai. Padahal kalau dipikir-pikir, gagal itu apa sih? Cuma sebuah keadaan dimana manusia terbentur oleh kekurangannya dan dihadapkan pada dua pilihan: berhenti atau coba lagi. Tapi  karena cap bodoh yang begitu melekat pada saya akhirnya saya memilih untuk berhenti.
Kini, saya tidak khawatir disebut bodoh, karena saya tahu persis saya tidak bodoh dan Tuhan terlalu baik sehingga tidak mungkin Ia memberikan kebodohan pada umat-Nya. Orang bisa berkata apapun tentang saya, dan saya tidak akan tersinggung. Saya menganggap bahwa kritik dari mereka adalah pembangun untuk saya.
Saya juga tidak mau menjadi orang bodoh lagi karena menjadi bodoh itu susah. Butuh banyak pengorbanan dan ketika saya mulai takut mencoba sesuatu maka saya mengingat kalimat di bawah ini;
“Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua”

Semoga bermanfaat
     ~Fraudulent.    




Rabu, 22 Januari 2014

In The Wee of Small Hours



In the Wee of Small Hours

                Ah, kamu pergi. Aku benci pada kamu yang pergi.  Aku benci di musim apa kita mesti berpisah tanpa membungkukan selamat jalan.  Aku benci berjalan sendiri mengikuti bayang-bayang yang memanjang di depan . Merenung sendiri dari balik jendela yang berembun.

                Iya KAMU! Kamu yang tidak bertengkar dengan waktu tentang siapa di antara kita yang menciptakan perpisahan. Kamu dan perpisahan yang tidak bertengkar  tentang siapa di antara kita yang menciptakan bayang. Kamu yang pernah datang dalam hidupku, mengajari aku banyak hal. Kamu yang dalam waktu singkat kukenal dan dalam waktu yang lama…masih kuingat

                Jika mengenal bulan harus menjadi bintang. Mengenal benua harus menjadi samudera. Mengenal pasir harus menjadi debu. Mengenal sinar harus menjadi berkas. Mengenalmu harus menjadi aku.

Aku mengenalmu dengan hebat.  Membuat seakan-akan aku telah berkenalan dengan dunia ini. Membuat alam terasa terkadang akrab, terkadang ganjil, terkadang menantang, terkadang membujuk.

Kini, ma(mp)ukah aku setelah menghabiskan separuh tawa, tangis, rindu, dan sakit denganmu . Menjadi dewasa bersamamu. Pada akhirnya, tiba di hari yang tiba-tiba. Pada hari yang tiba-tiba ada jarak antara aku, kamu, dan kata. Pada hari yang tiba-tiba engkau pun lengkap menerimanya dengan ikhlas. Ketika bertemu. Aku takut. Hanya bisa diam karena tak ada lagi yang bisa diceritakan. Tersenyum pura-pura dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak.

But In the Wee of Small Hours, I believe you. Always.
          Jangan pejamkan matamu ya: aku ingin tinggal di hatimu yang teduh.               

Dari aku
Untuk kamu yang mendinginkan mataku

Selasa, 21 Januari 2014

Orang yang Kupilih

 Untuk satu nama. Yang tengah aku pendam dalam-dalam. Semoga kau datang bukan hanya untuk menepi. Datanglah untuk menetap



"My brain tells me it will be better to just let him go.
But my heart... not so much.” 


  Kepadamu, hati. Bersabarlah.
 Kamu harus mengerti, pembicaraan yang selalu berakhir ambigu ini. Aku dan dia memang harus seperti ini keadaannya. Aku tahu kamu lelah, begitu pun aku. Tapi aku wanita, tak ada yang bisa aku lakukan selain meyakinkan bahwa aku dan dia sekarang atau setidaknya dahulu pernah terikat pada satu hati.
Bersabarlah karena terkadang hati tumbuh dengan cara yang amat ganjil dan di tempat yang tak pernah disangka. Andai aku bisa membuat pilihan tapi sayangnya cinta tak pernah memilih, cinta selalu menemukan tempatnya sendiri untuk menetap.
Maka, kepadamu hati. Tetaplah untuk selalu dan senantiasa bersabar, harus.

Kepadamu, pria. Mengertilah.
Lamaku tunggu kata-kata, yang merangkul semua. Dan kini ku harap ku dimengerti. Walau sekali saja. Mengertilah bahwa aku menunggu. Mengertilah bahwa menunggu adalah pekerjaan yang (sangat) membosankan. Mengertilah bahwa menunggu dalam hampa bisa menyakitkan. Seharusnya, ya seharusnya hampa berarti tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa berarti tidak ada masalah. Termasuk rasa sakit.
Tapi ternyata sakit
Tapi ternyata aku tetap melakukannya. 
Bahkan ketika yang ditunggu berkali-kali tidak muncul, bahkan ketika situasi berganti menyebalkan, bahkan ketika orang lain sudah mengambil jalan lain, aku tetap melakukan hal yang sama: menunggu.
Terakhir mengertilah tentang kamu, tentang aku, tentang kita. Setiap saat. Dari waktu ke waktu. Karena ternyata mencintai tak cukup hanya sekali bagiku. Ini ku lalui, aku mencintai, bukan hanya dari mata jatuh ke hati, tapi caramu yang selalu menganggap aku berarti.
          Maka, kepadamu pria. Tetaplah untuk selalu dan senantiasa ada disampingku, mengertilah. 
          Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.


Ini untuk kamu.
Bukan untuk 2 orang yang mendekati. Apalagi anak SMA itu.

Kamis, 22 Agustus 2013

Saya dan Dunia Baru

Cukup lama saya ada di sini
Harusnya saya sudah sedikit mengenal dunia ini
Tapi ternyata yang saya kenal hanya sebatas pasir di pantai
Saya buta, saya masih aneh dengan dunia baru saya ini

Apa saya yang salah memandang dunia ini?
Saya pikir hal itu benar tapi ternyata mereka bilang itu salah
Sekali saya berpikir itu salah, mereka mengatakan itu benar
Entah kenapa, saya merasa menjadi sangat bodoh di sana
Dan bodohnya, bodohnya saya menumpuk sehingga dengan bodohnya saya hanya diam

Saya tahu itu salah tapi saya juga lebih tahu sebelumnya bahwa saya akan selalu kalah dalam seleksi alam itu
Maka sebelum saya kalah, akhirnya saya menyerah

Jujur, awalnya saya sangat tidak peduli dengan apa saya benar atau salah, menang atau kalah
Tapi saya makin gerah, saya mulai berkilah

Saya ingin merubah dunia baru ini menjadi dunia saya
Merobohkan semua tembok yang mereka bangun
Membangun jembatan di atas sungai mereka
Mencampurkan warna hati mereka dan saya

Bukan
Bukan dengan cara saya menjadi mereka atau mereka menjadi saya
Cukup dengan toleransi mereka, saya, menjadi toleransi kita
Kita tidak perlu menjadi satu untuk itu semua
Kita hanya perlu bersatu

Senin, 05 Agustus 2013

Saya dan Tuhan

Hari ini saya kembali rusak
Bukan karena sesuatu yang ada di dalam diri saya namun ada jauh di luar diri saya

Tuhan, saya tumbang
Saya ingin menghadap-Mu
Ampuni hamba-Mu ini

Bagaimana cara saya meyakini mereka jika dengan menyebut nama-Mu yang adalah pilihan terakhir bagi saya, mereka sedikit pun tidak percaya
Bagaimana caranya saya menguatkan diri saya sedangkan agama-Mu mereka hina dengan alasan saya

Saya malu Tuhan
Saya malu pada-Mu
Siapa diri saya hingga mereka bisa menghina agama-Mu
Maafkan saya Tuhan, saya merasa bersalah pada-Mu

Selasa, 30 Juli 2013

Menopause Jugun Ianfu

Hanya ingin berbagi dan tak perlu dikomentari, semoga bermanfaat untuk menambah pengetahuan sekaligus mengenang kedudukan perempuan pada masa dahulu




 MENOPAUSE JUGUN IANFU
Jugun Ianfu: Saya Bukan Pelacur

Stigma: mengakibatkan kesakitan. Bahkan kematian. Kata yang berasal dari bahasa Yunani untuk menyebut semacam tanda yang diterakan dengan luka bakar atau tato ke kulit seorang hukuman, pelaku kriminal, budak, atau pengkhianat. Pada awalnya, ia hanya gonjang-ganjing kisruh yang membadai namun perlahan stigma menjelma bak ideologi baru yang dipertahankan. Maka di situlah dimulai klasifikasi manusia dan stigma memasang tonggak dan pagarnya.
Alkisah, di negeri dengan 220 juta penduduk ini, dengan perbedaan yang tak tepermanai di 17 ribu pulaunya, terdapat 10.000-15.000 wanita Indonesia yang pernah memenuhi kebutuhan biologis 280.000 tentara Jepang sekitar satu abad lalu. “Pelacur” sebut sebagian orang. “Ransum Jepang” kata sebagian yang lain. Namun ada yang mengatakan wanita-wanita tersebut bukan pelacur, sundal, pun sinonimnya, mereka adalah jugun ianfu. Pada diri mereka ditanamkan representasi pelacur terhadap realitas bahwa mereka korban penjajahan Jepang. Pemberian nama pelacur hanya usaha untuk menguasai dan sekaligus mengasingkan “apa yang tak diketahui”, the unknown. Dengan latar seperti itu, bila antara pelacur dan jugun ianfu tak ada “diastatasis”, hanya mungkin ada dialektika dan tipu, masihkah jugun ianfu sebagai pelacur dalam stigma?
Pelacur menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah perempuan yang melacur; tunasusila. Sedangkan jugun ianfu secara harfiah, ju=ikut, gun=militer/balatentara, ian=penghibur, dan fu=perempuan, dengan demikian arti jugun ianfu adalah “perempuan penghibur yang ikut militer”. Sesuai namanya, sejak tahun 1942-1945 mereka diharuskan untuk memenuhi kebutuhan biologis tentara militer Jepang secara kasar, tidak manusiawi dan dalam jumlah besar. Maria Rosa, seorang mantan jugun ianfu menuturkan bagaimana perlakuan kasar tentara Jepang terhadap dirinya: “Ketika tentara “melecehkan”, saya merasa seperti “binatang”. Kadang-kadang mereka mengikat kaki kanan saya dengan sebuah ikat pinggang dan menggantungkannya pada paku di dinding saat mereka memperkosa. Saya marah sepanjang waktu tapi tidak ada yang bisa dilakukan”.
Jugun ianfu dengan label absurditas dan abnormalitas, sangat mengerti mereka telah melawan rambu normalitas ataupun mainstream budaya namun cara-cara kekerasan, tipu muslihat, ancaman, dan teror tentara Jepang berhasil menaklukan mereka dan tak ada pilihan lain selain menjadi jugun ianfu. Seandainya mereka benar pelacur, seharusnya ada pilihan bagi mereka. Sayangnya menjadi jugun ianfu bukan kata iya atau tidak yang menjadikannya, keadaan dan paksaanlah yang memilih mereka. Salah satu sumber berasal dari Soeryono Hadi, seorang mantan anggota pimpinan LKBN Antara Perwakilan Surabaya: “...dalam tahun 1943 kakak saya mengatakan bahwa Pemerintah Balatentara Pendudukan Dai Nippon menyerukan kepada setiap orang tua yang mempunyai anak gadis agar segera mendaftarkan kepada pemerintah akan anak gadisnya tersebut. Adapun maksud pendaftaran, menurut keterangan Pemerintah Dai Nippon pada waktu itu, mereka akan disekolahkan..” Tidak ada kecurigaan pada pendaftaran itu, karena pada masa itu, masyarakat Indonesia menganggap Jepang sebagai pahlawan dan menaruh harapan besar terhadap mereka (Adams, 1966: 210). Selain itu, Pramudya Ananta Noer dalam bukunya berjudul “Perawan Muda dalam Cengkeraman Militer” mencatat beberapa alasan lain,Pertama, gadis-gadis tersebut mempunyai hati penuh berisikan cita-cita mulia untuk maju dan berbakti pada masyarakat dan bangsanya. Kedua, keadaan hidup yang mencekik.Ketiga, peran orang tua yang bekerja mengabdi pada Jepang.
Sebagaimana disebutkan salah satu arsip Universitas Sumatera Utara dengan judul Jugun Ianfu, Eksploitasi perempuan pada Masa Pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945), sebelum dipekerjakan, perempuan yang akan dijadikan jugun ianfu diperiksa kesehatannya, dipotret, diberi nama Jepang, dan ditempatkan pada kamar berukuran 3 x 2,5 m2, Emah Kasimah misalnya, mendapat nama Miyoko. Seorang jugun ianfu harus digilir 10-20 tentara Jepang karena tentara Jepang sangat banyak tiap harinya. Pernah saya baca dalam Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang, salah seorang di antara perempuan-perempuan itu mencoba menolak karena kencingnya sudah berdarah dan terasa nyeri. Sementara alat kelaminnya sudah berlendir dan mengeluarkan bau setumpukan bangkai tikus. Tubuhnya demam dan panas tinggi. Wajahnya sepucat mayat dan sudah tidak bisa berjalan karena seluruh belulangnya seakan remuk. Ia sudah tidak mampu melayani pejantan-penjantan itu. Namun bukannya dibawa ke dokter atau diberi obat, perempuan itu malah dipaksa digilir para tentara Jepang. Kepalanya dijambak sampai wajahnya tengadah. Ia ditempeleng sampai mulutnya berdarah. Akhirnya, ia tergeletak seperti mati di atas muntahan amisnya.
Dalam buku yang sama, ada juga cerita yang saya baca tentang bagaimana tentara Jepang itu menungganggi para perempuan itu dari depan dan belakang sambil mengayun-ayunkan ikat pinggang mereka sampai tubuh perempuan itu berbilur biru. Mereka seperti koboi dalam pertandingan pacu kuda. Begerak turun-naik, maju-mundur sambil mengayunkan pecut agar kudanya semakin kuat bergerak.
Untuk ‘memakai’ jugun ianfu sendiri, Tentara Jepang harus membeli tiket seharga 2,5 yen untuk tentara dan 3,5 yen untuk sipir. “Tapi saya tidak pernah dapat uang yennya,” kata Mardiyem. Jelas mereka tidak pernah dibayar, juga tak berani meminta bayaran. Tidak ada hari libur dan jam istirahat. Bahkan dalam keadaan haid pun, mereka tetap dipaksa mengangkangkan selangkangan. Derita kian bertambah ketika mereka hamil. Dokter setempat memaksa jugun ianfu menggugurkan kandungannya. Sekali lagi, jika mereka benar pelacur bukankah pelacur bekerja demi uang, namun menjadi jugun ianfu tak pernah atas nama uang, mereka bekerja demi nyawa.
Kini, anggaplah jugun ianfu sebagai Memento Passionis seperti diutarakan Walter Benjamin dengan inspirasi dari Emile Durkheim dan Henri Bergson, yang mengartikan Memento Passionis sebagai seluruh kisah peradaban dengan berbagai dimensinya, entah positif atau “terkesan membuka aib bangsa”, sejarah rakyat tanpa hegemoni dan legitimasi kekuasaan, sebuah pertanyaan muncul di benak saya: Perlukah mereka hidup dengan stigma pelacur demi menutupi aib bangsa ini? Seperti apa yang dinyatakan Sekjen Departemen Sosial, Asmono, 27 Desember 1996 berhubungan dengan dana kompensasi bahwa pemerintah Indonesia menolak dana kompensasi dari Jepang. Penolakan ini disertai dengan alasan:pertama, sulitnya membuktikan kebenaran korban pelecehan seksual; kedua, berkaitan dengan masalah moralitas bangsa, dalam arti jika pemerintah Indonesia menerima dana tersebut, sama dengan pemerintah Indonesia menerima perlakuan militer Jepang. Dengan kata lain, penolakan dana kompensasi berarti menghormati wanita Indonesia.
Saya pikir tidak demikian. Katakanlah dengan penolakan itu, bangsa Indonesia menjadi bangsa ideal, tapi apakah idealitas sejenis barter. Dalam barter, X memberi sesuatu kepada Y karena ia mengharap Y memberikan sesuatu sebagai imbalan. Pengingkaran kebenaran bagi saya hanya sebuah penundaan. Seperti pada rezim Soeharto yang berhasil menundukkan Indonesia dengan cara yang efisien: menyebarkan ketakutan yang ternyata runtuh karena ketakutannya sendiri. Dalam konteks merdeka, seharusnya kita sudah menyadari ada sesuatu yang boyak dalam bangsa ini. Sehingga kemerdekaan bangsa yang lahir sesudahnya dapat mengungkap kisah-kisah para Jugun Ianfu dan tidak terkesan membiarkan  keberadaan para Jugun Ianfu menghilang begitu saja tanpa ada pelurusan stigma bagi mereka.
Dalam frame  ini, dapat disebutkan bahwa “Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah” (UUD 1945 yang diamandemen Pasal 28 I, bdk. UU No. 26/2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 208 Tahun 2000, yang dalam Pasal 7, Pasal 9, dan Pasal 35 menyebutkan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat. Karena itu, setiap korban pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat ataupun ahli warisnya dapat memperoleh kompensasi, restitusi, dan rehabilitasi).
Selain itu, "Perempuan korban kekerasan seksual juga sedang dibungkam oleh keluarga dan komunitas mereka sendiri, karena mereka memprioritaskan keselamatan dan ingin menghindari aib dan rasa malu budaya yang melekat pada 'dosa' dari wanita ini." Hilde Jansen, wartawan asal Belanda. Hal ini juga yang menyebabkan kegagalan suatu sistem pelurusan fakta bagi eks. jugun ianfu. Akhirnya, kekerasan tak terbendung dari masyarakat bahkan melalui generasi didapat. Padahal, sanksi sosial dari masyarakat selalu mereka alami: dijauhi, dicemooh, dianggap sebagai “ransum Jepang”, dipinggirkan secara politik dan ekonomi. Beban psikologis yang dipikul oleh mereka dan anak-cucu mereka melahirkan pertanyaan atas tanggung jawab pemerintah berupa rehabilitasi dan restitusi atas mereka.
Dalam mengatasi masalah jugun ianfu, sebuah usulan menarik tentang urgensitas penetapan sebuah peraturan pemerintah demi menjamin keadilan bagi para Jugun Ianfumemang sering digulirkan. Alasannya ialah agar penanganan kasus ini dapat diselesaikan demi tegaknya keadilan bagi para Jugun Ianfu. Pengungkapan kebenaran dan sosialisasi di masyarakat memang perlu segera dilakukan guna menghapus stigma negatif. Hal ini juga dimaksudkan agar penyelesaian masalah ini tidak mati di tengah jalan. Pemerintah Jepang dan Indonesia harus jelaskan kepada publik, khususnya generasi muda mengenai jugun ianfu melalui pendidikan. Integrasi masalah jugun ianfu dalam pelajaran sejarah adalah salah satu bentuk pendidikan nyata yang harus dilakukan.  Semua hal ini dimaksudkan agar stigmatisasi yang dialami oleh jugun ianfu berhenti dan pengartian jugun ianfu oleh masyarakat khususnya generasi muda menjadi benar dan jelas.
"Saya pikir kita tidak hanya hidup untuk diri kita sendiri, saya pikir kita harus mencoba untuk memainkan peran dalam masyarakat dengan cara apapun yang kita miliki. Kami ingin membawa cerita ini (jugun ianfu) ke permukaan. " tutur Hilde Jansen

Jumat, 26 Juli 2013

Dengan Senyuman

Sekarang kita sudah sama-sama dewasa
Bukan saatnya lagi untuk mempertanyakan apa yang dahulu kita sama-sama tanyakan
Terlalu bodoh rasanya untuk menangis di waktu sekarang dengan alasan seperti itu
Saya dan kamu memang mungkin begini jalannya

Tak apa
Mungkin waktu menjawab untuk kita tanpa perlu kita yang memutuskan
Kamu yang berjalan ke kiri dan saya yang berjalan ke kanan
Pada jalan itu mungkin kita akan menemukan sesuatu yang bisa menggantikan posisi masing-masing dari kita

Saya tidak pernah menyalahkan kamu, begitu pun sebaliknya
Kita sama-sama tahu pada suatu keadaan dimana harapan yang seperti angin
Kadang menyejukkan, kadang membuat masuk angin juga
Mungkin harapan pada saat ini adalah harapan yang membuat masuk angin
Jadi, untuk mengobatinya, kita harus menghilangkannya

Jangan pikir saya tidak sedih dengan cara pengobatan itu
Saya (masih) manusia
Saya punya rasa untuk mengerti
Tapi kita sudah dewasa, saatnya untuk mengerti bahwa kita tidak bisa terus dalam keadaan sakit
Saya ingin sembuh

Salah saya, yang membiarkan harapan itu menggantung dan kamu yang tidak juga mengucapkannya
Tak apa
Saya sudah mengikhlaskannya
Saya harap kamu juga

Kini di waktu yang kita sudah sebut dewasa
Masing-masing dari kita mulai berjalan kembali
Mungkin kita juga sudah mulai mengerti maksud pengobatan itu
Kita juga tidak memaksakan perasaan ini kembali seperti dulu

Selamat tinggal
Selamat dengan jalan kirimu dan saya dengan jalan kanan saya
Kita berpisah
Berpisah dengan senyuman



Dari saya dengan curiga dan gosip yang menyertai tulisan ini