Puisi ini hanya tulisan
Tak bermulut tapi punya rasa
Tak punya telinga tapi ingin didengar
Dan puisi ini tak akan pernah bertitik karena puisi ini simbol rasa yg tak pernah berakhir
Kutulis puisi ini agar kau mengerti
Kutulis puisi ini agar kau mau mendengar
Kutulis puisi ini karena aku pecundang
Kau tahu puisi ini hanya sebuah hiperbola dari abstraknya rasa
Kumpulan partikel-partikel sakit dan berkumpul menjadi perih
Kau begitu mengerti aku dibandingkan diriku sendiri
Kau menghargaiku bagai putih yang suci
Aku ingin menangis semalaman suntuk untukmu
Memahami rasamu yang tak kan pernah bisa kubalas
Aku telah mengganggap kau sebagai diriku dalam kelamin yg lain
Aku ingin kau terus ada untukku tak ingin kau berpaling dengan yang lain
Tapi di satu sisi aku tak dapat membalasmu
Aku hanya ingin kamu sebagai tangan penuntunku ketika aku lemah
Aku ingin kamu menjadi mata ketika aku tidak bisa melihat yang benar dan salah
Dan aku ingin memiliki rasamu seutuhnya; tak ingin kau teruntuk yang lain
Aku takut kamu menjadi dia yang meninggalkan aku
Aku takut kamu menjadi pembohong seperti dia
Betapa bangganya aku ketika dia memperhatikanku menjagaku dengan segenap perasaan dia tanpa kamu tahu
Tapi begitu kukatakan yg sebenarnya dia tinggalkan aku
Aku memang jahat dan pecundang tapi ku takkan bisa kehilangan yang terlalu indah untuk kulepas/
Sabtu, 29 April 2017
Rabu, 26 April 2017
Bumi
Alkisah
di sebuah negeri, ada seorang anak bernama Amel. Amel adalah seorang anak
korban tsunami. Pada suatu malam ia berdoa pada Tuhan. Berharap semuanya akan
jauh menjadi lebih baik.
Titik-titik
hujan jatuh membelai pipi anak manis itu. Ia pun menjadi sedih hingga akhirnya
menangis. Lalu sang bintang yang sedang bermain-main di langit, tidak sengaja
melihatnya. Ia pun turun dari langit dan memancarkan sinarnya, memberi
kehangatan pada anak itu. Anak itu pun tertegun pada bintang itu. Hingga
akhirnya sang bintang bertanya pada anak itu,,
"Mengapa
kamu menangis? Lihatlah hujan baru saj berhenti dan sekarang semua bintang dan
bulan sedang tertawa gembira?" seru sang bintang
"Aku
sedih bintang, aku merasa seperti dibenci bumi" hela Amel dengan lembut
"Dibenci
bumi? Mengapa kau berpikir seperti itu?"
"Aku...,
aku merasa bumi tidak sayang padaku, setiap hari ia mengirimkan hujan padaku
dan keluargaku hingga akhirnya aku harus mengungsi karena banjir, setiap minggu
ia kirimkan kami gempa hingga kami bingung mencari tempat yang aman. Dan bahkan
sekarang ia mengirimkan aku bencana tsunami, hingga aku harus hidup sebatang kara."
"Sebenarnya
aku tidak tahu apakah bumi membencimu atau tidak? Namun jika kamu mau aku bisa
menanyakannya pada bumi tapi dengan syarat kau harus berhenti menangis"
"Iya,
tolong tanyakan padanya ya bintang, aku akan menunggumu disini dan aku akan
berhenti menangis."
"Baiklah"
Pergilah
sang bintang ke tempat bumi, tampak disana bumi sedang terisak dan siap untuk
menangis kembali.
"Bumi.."
seru sang bintang
"Bintang?
Rasanya sudah lama sekali aku tidak berjumpa denganmu, apa ada sesuatu yang
ingin kau bicarakan?"
"Iya,
aku hanya ingin menyampaikan sebuah amanat dari salah satu anak di bumi. Ia
bertanya padaku apakah kamu membencinya, membenci manusia"
"Sungguhkah
ia bertanya seperti itu? Tapi bukankah manusia yang membenciku?"
"Tidak,
mereka tidak membencimu bumi,
itu yang kutahu. Mereka hanya berkeluh kesah mengenai hujan, gempa dan tsunami
yang kau kirimkan pada mereka. Mereka merasa semua itu kau lakukan karena kamu
benci dengan mereka" hibur sang bintang
"Apakah
begitu bintang? Sungguh aku tak pernah bermaksud untuk itu. Gempa yang
kukirimkan pada mereka adalah getaran tubuhku. Aku merasa sangat kedinginan
karena pohon-pohon yang menjadi mantelku semakin menipis. Manusia terus saja
menebangi pohon-pohonku hingga beberapa bagian tubuhku tak diselimuti hingga
akhirnya aku pun kedinginan dan tubuhku bergetar. Lalu juga terkadang aku
bergetar karena tubuhku gatal, sangat gatal. Ini semua karena sampah-sampah
yang ada di tubuhku semakin banyak dan tidak ada yang mau peduli hingga
akhirnya seluruh tubuhku gatal. Dan aku pun ingin menggaruknya dan mungkin aku
tak sengaja menggerakkan tubuhku. Lalu mungkin tanpa mereka sadari aku kirimkan
panas yang berlebihan hingga menyebabkan kemarau. Itu semua karena aku sangat
kedinginan bintang karena tak ada pohon yang menjadi mantelku dan aku pun
mendekat pada matahari. Atau aku terlalu dekat hingga menyebabkan mereka
kepanasan."
"Lalu
bagaimana dengan hujan dan tsunami bumi?"
"Tsunami
yang terjadi itu karena aku sedang demam dan batuk, aku batuk-batuk hingga
akhirnya tidak sengaja melakukan gerakan yang besar. Dan aku tidak bisa menahan
air laut di tubuhku lagi, kamu tahu kan kalau kita sedang sakit tubuh kita bisa
sangat tidak berdaya. Ini semua terjadi karena polusi dari manusia yang
membuatku batuk-batuk. Selain itu tubuhku terasa sangat sakit, gara-gara
paku-paku bumi yang mereka tancapkan padaku.Terakhir adalah hujan, hujan adalah
air mataku bintang.Aku sedih melihat apa yang manusia lakukan padaku bintang,
mereka terus saja membuat kerusakan di diriku. Hingga aku berpikir mereka
membenciku"
"Ohh
begitu tapi bumi mereka
manusia tidak membencimu. Mereka mencintaimu dan makanya sekarang jangan
menangis lagi yaa, kasian mereka banjir teruss. Dan akan aku katakan pada mereka semua yang
kudengar tadi. Ok?"
"Iya
baiklah bintang, terima kasih"
"Sama-sama"
Bintang
pun pergi dengan senyum di bibirnya dan ia akan menyampaikan semua pada Amel
yang telah menunggunya di sana.
.
Yang membuat
saya percaya bahwa foto bisa bicara adalah anda. Foto anda seakan bicara,
bahwasanya Sang Pencipta mempunyai pesona indah berupa manusia untuk saya jaga.
Di setiap gambaran foto itu, terdapat sebuah kenyamanan yang tak terdefinisikan. Matamu, mataku, mata yang memata-matai
mata kita. Tak terbaca.
Q & A
Q: “Pernahkah kamu berpikir, mengapa cinta dan benci bisa
tumbuh berdekatan kadang hanya ada selaput tipis sebagai pembatasnya. Saya
sering membayangkan, tentu lebih menyenangkan jika cinta berada di samping
persahabatan atau setidaknya pertemanan karena dengan batas itu saya tidak
perlu takut ketika saya mencoba menerobos satu sisi untuk ke sisi lain,
menerobos persahabatan menjadi suatu bentuk cinta. Tapi ternyata kenyataannya
tidak seperti itu kan, batas cinta adalah kebencian dan saya tidak tahu dimana
batas pertemanan atau persahabatan dengan cinta, saya takut ketika saya salah
menerobos pembatas itu yang saya temui adalah batas kebencian. Bukankah banyak
orang yang salah menerobos batas
tersebut dan tersesat dalam benci. Dan mengapa cinta itu bisa lebih rendah atau
lebih tinggi antara satu pasangan dengan pasangan yang lain?”
...
A: ”Karena persahabatan tidak terletak di samping cinta.
Tapi persahabatan terletak dalam cinta. Jika kamu menghayati dan benar pernah
merasakannya, kamu akan menemui bahwa cinta adalah persahabatan yang eksklusif,
hanya dapat dimiliki untuk satu orang. Persahabatan dan cinta tidak akan pernah
menyakiti, akan selalu mengasihi, dan tak ingin orang yang ia sebut sahabat
atau cinta itu tersakiti. Dan soal
cinta atau benci simpati atau antipati adalah soal hati yang tumbuh laksana
jari-jari kita, tidak dapat ditanyakan mengapa yang satu lebih rendah dari yang lain dan mengapa ibu jari
lebih besar dari jari kelingking.”
Jodoh
Kalau memang jodoh kita pasti akan
ketemu lagi
Kalau bukan itu
alasan Tuhan yang tidak perlu ditanyakan kenapa.
Berlari
Berlari
Mari kita sebut ini pelarian
Menunggu itu membosankan; oleh karena itu saya berlari
Ah sial, saya berlari ke tempat yang salah
Tempat iu menahan saya
Tempat itu tidak buruk
Ia memberi saya makan, minum dengan cinta yang amat besar
Ia menjaga saya
Mencoba membuat saya menetap selamanya
Saya berusaha
Tapi gagal
Seseringkali saya berkata bahwa ini bukan pelarian
Sesering itu pula saya ingin berlari
Saya, (mungkin) manusia tidak tahu terima kasih
PELAJARAN
Pernah bersama kamu, bukan suatu kesalahan
Saya anggap, hal ini adalah pelajaran
Mengenal kamu, mendewasakan saya
Sayangnya, saat kita dewasa, kita malah tak saling mengenal
Saya berharap saya dapat membaca hal yang tersirat
Mengetahui apa yang ada di pikiranmu
Bersikap seperti maunya kamu
Melakukan semuanya dengan sempurna
Tapi saya tidak punya
kemampuan untuk membaca pikiran
Dan kamu juga tidak pernah menjelaskan kepada saya
Jadi hal ini gagal, tapi tidak percuma
Sekali lagi, hal ini adalah pelajaran
Saya tidak akan menunggu lagi untuk kamu
Atau pria manapun
Hanya untuk tetap menjaga perasaan saya
Terselamatkan dari sakit hati dan patah hati
Langganan:
Postingan (Atom)